Menulis Puisi, Belajar Jujur Terhadap Diri Sendiri
: “Kejujuran Mencintai Patani”
Puisi adalah sebuah kejujuran yang diungkapkan oleh penulisnya
menggunakan kata kata indah dan memiliki makna tertentu. Suminto A. Suyuti mengungkapkan
dalam bukunya yang berjudul Berkenalan Dalam Puisi (2010:25), bahwa
puisi adalah sosok pribadi penyair atau ekspresi personal. Hal ini
berarti puisi merupakan luapan perasaan atau sebagai produk imajinasi penyair
yang beroprasi pada persepsi-persepsinya. Luapan perasaan dari seorang penulis
puisi, tentunya mempunyai sebuah pesan, sebuah makna yang berasal dari lubuk
hatinya dan ingin disampaikan. Bisa jadi pesan itu tentang apa yang dia lihat,
dengar, pikirkan, rasakan dan dia lakukan. Makna tersebut dituangkan kedalam
sebuah susunan kata-kata yang padat dan penuh makna serta saling berkaitan. Terkadang
ada kata-kata tersebut ada yang sulit dimengerti oleh orang awam karena
menggunakan kata kiasan ataupun menggunakan kata kata tertentu yang hanya
familiar dikalangan penyair saja, misalnya kata lazuardi, aurora dan lain-lain.
Hal ini tentunya menimbulkan dampak pemaknaan puisi antara orang yang satu
dengan yang lainnya berbeda-beda. Namun, paling tidak ketika sudah terbiasa
membaca puisi, maka akan mampu menangkap makna yang ingin disampaikan oleh
penulisnya meskipun sedikit.
Makna dan pesan yang merupakan inti dari puisi inilah yang bisa disebut
kejujuran. Kejujuran tentang segala sesuatu yang berasal dari dirinya sendiri. Semakin
lebih dalam lagi dibahas mengenai kejujuran ini, Sapardi Joko Damono pernah
menulis sebuah puisi yang berjudul Penyair dan dikutip oleh Suminto A.
Suyuti dalam buku yang berjudul Berkenalan Dengan Puisi (2010:5).
Dia mengibaratkan penyair seperti sebuah pintu. Penyair membukakan daun-daun
pintu sehingga tidak ada rahasisa lagi dan terungkaplah kejujuran. Kejujuran
yang diungkapkan oleh penyair melalui karyanya. Terlepas kejujuran itu nantinya
setelah dalam bentuk puisi sampai kepada orang lain atau tidak misalnya karena
puisi yang dibuat lantas disimpan sendiri tanpa dibaca orang lain. Namun, paling
tidak penyair sudah berusaha jujur tentang apa yang dia lihat, apa yang dia
rasakan, apa yang dia dengarkan.
Puisi dibagi menjadi dua dari segi latar belakang penulisannya.
Pertama yaitu puisi yang ditulis lebih mengutamakan isinya. Bagi penulisnya
tersebut puisi adalah tentang apa yang ingin disampaikannya dan bahasa hanya
sebagai tempat untuk meletakkan ruh puisi tersebut. Yang kedua, yaitu puisi
yang ditulis berawal dari permainan bahasa-bahasa hingga akhirnya menemukan
makna dari sebuah puisi yang ingin disampaikan.
Menulis puisi sebagai bentuk mengungkapkan kejujuran dapat
dilakukan dengan sederhana. Apa lagi bagi penulis puisi pemula. Langkah awal
yang bisa dilakukan adalah jangan berpikir menulis puisi itu sulit. Biarkan
teori teori tentang puisi seperti diksi, bunyi, citraan, kiasan dan lain lain
itu masuk dengan sendirinya dalam proses penulisan puisi. Tulislah apa yang
dilihat, dirasakan, didengarkan dan dilakukan tanpa terlebih dahulu berpikir
ini salah atau benar. Tentunya, tulisan itu mempunyai makna atau isi yang ingin
disampaikan. Kemudian kaitkanlah dengan nilai-nilai kehidupan. Tahap
selanjutnya adalah mengedit naskah puisi yang sudah ditulis tersebut. Tahap ini
dilakukan untuk mengganti kata atau kalimat yang dirasa kurang pas atau kurang
indah untuk dibaca. Karena puisi mempunyai keunikan yaitu keindahan sebagai
badan pembungkus jiwa atau isi dari puisi itu. Meskipun sekali lagi, keindahan
juga bersifat subjektif dan karena
subjektifitas inilah yang kemudian melahirkan makna sebanyak orang yang membaca
puisi tersebut.
Untuk melengkapi seseorang dalam menulis puisi adalah dengan sering
sering membaca puisi karya penyair-penyair yang sudah mahir dalam menulis
puisi. Hal ini dilakukan supaya penulis ini mempunyai pengetahuan yang luas
tentang puisi dan juga kaya akan kosakata. Sehinga, penulis tersebut tidak
kesulitan dalam menulis puisi.
Puisi tentunya bukan suatu hal yang baru bagi bangsa Melayu. Puisi
merupakan salah satu dari sekian banyak budaya melayu yang berkaitan dengan
dunia sastra. Puisi bebas adalah salah satu jenis puisi yang hari ini masih
populer dikalangan penyair karena tidak ada aturan yang mengikatnya seperti
aturan rima, baris, bait dan sebagainya. Puisi bebas ini ditulis oleh para
penyair untuk mengungkapkan segala sesuatu yang dialaminya maupun tidak. Dengan
cara menulis puisi inilah pemuda-pemudi, generasi bangsa Melayu menunjukkan
salah satu cara mencintai bangsa Melayu, mencintai Patani dengan penuh
kejujuran. Paling tidak menulis puisi ini juga sebagai bentuk perlawanan
terhadap kondisi bahasa Melayu yang kian hari kian hilang dari tulisan dan
lisan generasi mudanya. Pada akhirnya, mari berjuang bersama menjaga bahasa
Melayu, Bahasa kita, Mari jujur pada diri sendiri kalau kita masih dan terus
mencintai bumi Patani, maka menulislah puisi. Dengan puisi, bumi Patani akan
Berjaya lagi. Jujurlah, menulislah!.
*Dipublikasikan pada Buletin JISDA edisi ke 2 Bulan Oktober 2016
** JISDA (Jamiah Islam Syeikh Daud Al- Fathoni) merupakan salah satu kampus islam yang terletak di Yala, Selatan Thailand
Tidak ada komentar:
Posting Komentar